ADA

ADA

“Ada” adalah judul dari lukisan ini. Saya terinspirasi dari sebuah filosofi yang berkata “ada” (bercerita tentang realita suatu keadaan benda). Tetapi saya tidak mau bercerita panjang tentang penjabaran dari filosofi tersebut, karena dalam lukisan ini setiap garis, arsiran dan lambang-lambang yang ada  adalah hasil dari renungan saya. Lukisan banyak  bercerita tentang semadi, dunia kosmis, alam bawah sadar, doa dan Allah yang sering dikaitkan sebagai sumber keadaan yang realita saat ini atau “Ada” lewat perlambang-perlambang yang membantu kita untuk mengerti rahasia apa yang mau disampaikan lewat lukisan ini. Sebelum saya melanjutkan tulisan saya ini saya mau bercerita sedikit tentang diri saya dan apa yang saya alami sebelum saya membuat lukisan ini.

 

Aku berjalan

“Aku berjalan” adalah judul yang tepat untuk memulaiu cerita ini. Sejak kecil saya telah banya mengalai dan melaksanakan kehidupan semadi, puasa, askese dan doa. Ya bisa dikartakan sejak saya SD kelas 3. pengalaman-pengalaman yang saya alami awalnya tidak saya hiraukan akan tetapi ketika saya duduk di kelas Grammatica (setara 1 SMU untuk sekolah umum) di Seminari Menengah Christus Sacerdos (Pendidikan kusus untuk calon imam). Sejak masuk seminari ini pengalaman-pengalaman yang saya alami ini saya coba kaitkan satu persatu dan ini yang membuka sedikit pikiran dan pandangan saya tentang pengalaman diluar pengalaman orang-orang pada umumnya. Selama di Seminari peluang untuk lebih mendalami semadi dan hirup ronani ini semakuin mendapat tempat yang sangat baik. Pengalaman-pengalaman pribadi lewat semadi, alam, doa, ulatapa dan hal-hal rohani lainnya ini banyak  membuat saya mencoba menuangkannya dalam sebuah karya yakni puisi dan lukisan. Ada sebuah pengalaman yang kadang membuat saya sendiri heran yakni sebelum saya melukis saya selalu mengucapkan sepenggal kalimat ini dalam hati saya  “ Ya Tuhan Engkau yang empunya semuanya, berkaryalah lewat diriku”. Setelah itu saya memulai bekerja  di mana saya merasa bahwa semuanya kosong dan tidak ada sesuatupun terpikir dalam dirisaya atau dapat dikatakan saya hanya asal-asalan menggambar tanpa ada konsep atau media dan selesai saya menyelesaikan karya itu beberapa hari kemudian saya melihat saya kembali apa yang telah saya buat dan ternyat apa yang saya buat itu seperti apa yang ada dalam semadi saya beberapa hari lalu. Inilah yang saya alami dan rasaka selalu untuk beberapa lukisan yang saya buat yang bernuansakan hasil renungan saya.

 

“Ada” adalah suatu kata atau sesuat yang takkan habis-habisnya untuk dibicarakan. Sebelum saya melukis lukisan ini ada sesuatu pertanyaan dalam hati saya yakni “siapakah aku?” “dari manakah aku” “ada?”. Pertanyaan-pertanyaan ini yang membantu saya untuk merenung dan merenung terus akan hidup, dunia, alam semesta, doa saya dan siapakah Allah. Realita yang ada dan yang saya alami saat ini ternya ta adalah sebuah keadaan yang nyata dan berjalan terus tidak lepas. Perjalanan hidup saat ini terus berjalan dan sampai pada suat titik dimana keadaan itu berjalan dalam suatu kesempurnaan akan keadaan yang telah berlalu dan dapat dikatakan realita kesempurnaan. Pengetahuan yang tak terbatas dan keabadian realita. Waktu ini berjalan terus entah sampai pada suatu titik. Akan tetapi titik ini bukanlah berhenti sampai disitu saja melainkan merupakan titik awal dari suatu waktu yang tak berujung dan tak berpengakhir. Banyak para pemikir yang menyumbangkan hasil pemikiran mereka mengenai kehidupan ini. Sain yang mereka perbincangkan mencoba memecahkan masalah “ada” ini. Sampai dimanakah ini dapat berguna bagi kita. Saya pribadi mengatakan bahwa semua itu bisa kita terima sebatas mana kita mampu mencerna apa yang mau disampaikan oleh orang yang memberikan defenisi-defenisi tersebut akan tetapi pada saat kita perada pada titik sama seperti mereka ketika mereka menyampaikan pemikiran itu maka kita dapat berpikir dan hasilnya itulah yang kita sampaikan sama seperti pemikir-pemikir yang lain yang telah dikenal. Inilah yang saya coba buat yakni menuangkan apa yang saya dapat mengenai “ada”  dari hasil permenungan saya sendiri. Di sini saya juga mau mengatakan bahwa suatu karya yang dihasilhan dari pemikiran ilmiah, dari hati atau perasaan, dan dari renungan itu sangat lain. Renungan itu dalah perpaduan dari pikiran dan hati dan ditambah kita dapat melepas defenisi dunia utuk menerima yang lebih murni lagi. Saya tidak berkata bahwa renungan saya telah menghasilkan defenisi yang sangat tepat dan akurat atau tidak dapat diganggu gugat, tetapi disini saya hanya mau berbagi sesuatu yang saya dapat dari pergelitan batin saya denga renungan.  

 

 

 Sebelum kita memulai mengupas setiap detai lukisan ini, saya hanya mau berkata “untuk mau mengerti seorang anak bayi kita harus mampu menjadi atau membuat diri kita menjadi seorang bayi dan kita akan mengerti apa itu sakit ketika kita pernah mengalaminya sendiri” maka saya pun mengajak semua saudara yang membaca atau mau mendalami likisan ini melepas defenisi apapun yang ada di dalam pikiran saudara mengenai semua hal. Saya mencoba mengosongkan diri dari semua hal yang mengikat saya di dunia ini. Ini juga yang saya anjurkan bagi semua saudara yang membaca tulisan ini dan yang mau lebih lanjut mendalami apa yang ada di dalam lukisan ini.

 

 

Lihat

Lihatlah beberapa menit gambar ini! Apa yang anda lihat dan pikiran-pikiran yang muncul didalam pikiran saudara tahan saja atau simpan karena itu pasti akan berguna untuk saudara sendiri. Di awal ini saya hanya berkata ”lihat” saja. Dengan melihat banyak hal yang saudara dapatkan.

 

Pertanyaan

Pertanyaan akan menuntun anda untuk mencari ataupun mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu. Di sini saya akan menyampaikan kepada saudara pertanyaan pertanyaan singkan yang menuntun saudara melihat dan lebih mendalaminya. Akan tetapi di sini saudara tetap ingat bahwa lepaskan defenisi-defenisi yang telah terekan di dalam pikiran saudara atau yang benar-benar sudah menjadi pegangan anda.

 

Ikuti 

Ikutilah apa yang saya sampaikan dan berjalanlah bersama saya utuk menemukan kunci dari lukisan ini. Mari kita berpetualang dalam suatu dunia yang benar-benar baru.

 

Pikir

Saya akan tetap ingat bahwa anda manusia yang normal yakni berpikir. Saya hanya mau bekata bahwa “berpikirlah seperti anak bayi”.

 

Jadi disini saya tidak akan mengekang saudara dalam kemanusiaan saudara tetapi mengajak saudara untuk melihat, bertanya dari pertanyaan, mengikuti dan berpikir. Mari kita mulai petualangan kita ini.

1.       Dapatkah saudara melihat perubahan arsiran yang semakain terang pada lukisan ini?

Ada 7 perubahan arsiran yang ada di dasar lukisan ini. Arsiran ini semakin gelapdi tengah tampaknya. Inilah 7 tingkatan, langkah atau lapisan kosmis yang orang sering bilang langit. “Tujuh lapisan lagit dilangitan, tujuh tungkat di tingkatannya”.

 

2.       Menurut saudara siapakah manusia itu, apakah laki-laki atau perempuan?

Tetap saja simpan jawaban saudara dan sekarang saya mau menerangkannyadia itu adalah perempuan karena dari fisik nampah rambut panjang dan memiliki buah dada. Akan tetapisaya menyuruh anda kembali untuk melihat lebih lama pada sisi wajah manusia yang ada pada gambar itu. Lihatlah ada sifat kelelakiannya dari pancaran sifat yang tergambar dari wajahnya. Maka manusia itu adalah seorang yang memiliki sifat laki-laki dan perempuan. Saya tidak permasalahkan masalah jenis kelaminnya. Dari situ saya mau mengatakan bahwa manusia yang utuh adalah manusia yang memang memiliki sifat laki-laki dan perempuan. Adalah sebuah kesempurnaan jika dua sisi sifat manusia yang dikatakan mahluk yang paling sempurna disatukan. Laki-lai dan perempuan adalan kesatuan yang sangat misteri dalam kehidupan ini inilah yang sangat sulit dipadukan. Suatu kehidupan akan tercipta jika keduanya bersatu. Pikiran dan hati yang mewakili kedua-duanya jika depadukan akan sangat berguna dalam kehidupan ini. Jika hanya satu yang bekerja maka ketimpangan akan terjadi.

 

3.      Ada dua bahan yang digunakan, apa?

Bahan yang saya gunakan disini adalah pensil dan pena cair. Dua bahan yang berbena ini  juga menunjukkan perbedaan situasi yang ada di dalam gambar tersebut. Pensil lebih menonjolkan keduniaannya sedangkan pena cair itu lebih menonjolkan hal batiniah atau yang rohani. Ini nampak dari batas yang ada pas di tengah-tengah lukisan. Inilah pembatas yang tampak berupa sebuah kekontrasan antara dua situasi. Akan tetapi batasan ini bukan brarti memutuskan situasi dari kedua-duanya itu. Melainkan adalah sebuah situasi yang menjadi jembatan atau perantara untuk menggabungkan kedua-duanya. Situasi yang kosong disini inilah gambaran dari semadi yakni kekosongan yang benar-benar kosong. Tanpa titik, tanpa garis, tanpa, kata, tulisan , pikiran atau sebuah bayanganpun tidak.

 

4.      Tulisan apakah yang tertulis pada daerah lingkaran hitam yang ada pada lukisan tersebut?

Tulisan yang ada pada lukisan ini adalah “Ada”. Saya menggunakan kata “Ada” ini mau menggambarkan Allah yang merupakan sang “Ada”, dari Dialah segala yang ada di dunia ini. “Kekal dari kekal” kalau bisa saya katakan.

 

Keempat pertanyaan awal ini adalah pertanyaan yang menjadi kunci-kunci pertama untuk masuk kedalam kamar utama yang menyimpan rahasia lukisan ini. Akan tetapi jika anda dapat lebih mendlami kata-kata yang telah saya sampaikan anda sudah melangkah pada tangga pertama akan tetapi kika belum coba mulai kembali untuk dapat mengerti dan mendapat kata-kata kunci tersebu.

 

 

1.       Lapisan 1

Lapisan ini adalah tangga awal manusia melangkah menuju ke hadirat Illahi. Jika manusia dapat khusyuk dalam semadinya ia akan dapat melepas jiwa batinnya unutk melangkah san menaiki tangga ini. Tangga ini adalah batasan duni adan hadirat yang Illahi. Pada tingkatan ini manusia yang dapat melangkah di sini adalah manusia yang memulai hidup rohani di tingkat awal. Warna yang anda temuai adalah kabur.

2.       Lapisan 2

Ketika manusia melaksaanakan hidup doanya semakin dalam ia dapat melangkah terus. Pada tingkatan ini anda mulai melihat kejernihan warna-warna yang ada.

3.       Lapisan3

Semadi yang khusyuk membawa anda untuk melangkah ketingkat yang lebih tinggi ini. Puasa dan pantang yang dimulai dapat membersihkan diri dan mata batin manusia yang melakukan tata hidup murni ini.

Tinggalkan Balasan